SELAMAT DATANG DI WEBBLOG KIM NAWALA. WEBBLOG INI MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA ANDA SEPUTAR KABUPATEN LUMAJANG DENGAN SEGALA KEBERAGAMANNYA
Home » » Minat Baca Masyarakat Pedesaan

Minat Baca Masyarakat Pedesaan

Written By Unknown on Jumat, 05 Juni 2015 | 20.59



Minat Baca Masyarakat Pedesaan



{ kim nawala }- Seperti telah banyak di paparkan oleh banyak orang sebelumnya, bahwa minat baca masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Pedesaan masih belum menunjukkan  kemauan yang menggembirakan. Mereka lebih suka dengan televisi dan internet dari pada mencari data dan informasi dengan membaca buku . Sebuah penelitian menyebutkan Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu baru 88 persen, itupun belum merata atau terjadi perbedaan untuk tiap daerah, seperti di Jawa Timur angka melek huruf sebesar 92%. Di negara maju seperti Jepang angka tersebut sudah mencapai 99 persen. (http://library.um.ac.id/index.php/Artikel-Umum/minat-dan-kebiasaan-membaca-masyarakat-jawa-timur.html) .


Lebih lanjut lagi disebutkan, United Nations Development Programme (UNDP) telah menjadikan angka melek huruf sebagai salah satu indikator untuk mengukur kualitas suatu bangsa. Indikator tersebut didasarkan pada tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) melalui tingi rendahnya melek huruf masyarakat. Sedangkan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa. Dalam publikasi UNDP yang terakhir tahun 2003, Indonesia berada di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Berdasarkan publikasi UNDP maka kualitas bangsa Indonesia masih belum maksimal dan lebih rendah dibanding bangsa-bangsa tersebut. Hal demikian diantaranya disebabkan belum maksimalnya angka melek huruf kita. (http://library.um.ac.id/index.php/Artikel-Umum/minat-dan-kebiasaan-membaca-masyarakat-jawa-timur.html). Dan belum maksimalnya angka melek huruf bangsa kita diantaranya disebabkan kurangnya minat baca masyarakat.

Masyarakat lebih suka mendengar dan melihat atau lebih mampu membeli televisi, computer, DVD dan barang-barang lainnya daripada membeli buku. Keadaan demikian masih banyak terjadi di lingkungan pedesaan, mungkin karena faktor pendidikan dan lainnya. Lain halnya dengan masyarakat di daerah perkotaan, kesadaran dan kebutuhan untuk membeli buku lebih tinggi daripada masyarakat pedesaan.  Untuk pembelian buku juga masih di dominasi oleh mayarakat perkotaan. Akhirnya semakin langka saja ketersediaan buku-buku di pertokoan pedesaan, karena para penerbit  lebih membidik dan memperhatikan pasar perkotoaan  untuk pendistribusian buku-buku terbitannya.



Bagaimana solusi  untuk merangsang atau memotivasi  minat baca masyarakat pedesaan? Tentu saja dengan tidak memberatkan masyarakat dalam hal biaya dan materi. Sebut saja gratis dengan tidak mengeluarkan biaya. Karena masyarakat akan mengemukakan berbagai  alasan untuk tidak menerima ajakan budaya baca yang  digalakkkan dengan alasan biaya tersebut. Padahal,  telah kita ketahui, mereka  mampu membeli barang-barang yang berharga keperluan hidupnya, dan mereka banyak membuang waktu luangnya dengan menonton televisi ataupun mengobrol. Oleh sebab itu pengembangan minat dan kebiasaan membaca perlu dikondisikan dalam kehidupan masyarakat, jika kita menginginkan masyarakat kita menjadi lebih maju.
Pendirian Taman Bacaan Masyarakat, Rumah Baca Desa atau Perpustakaan Desa merupakan solusi yang tepat untuk merangsang minat baca masyarakat khususnya masyarakat Pedesaan, Masyarakat bisa membaca dengan gratis tanpa dipungut biaya. Dengan adanya taman baca Masyarakat, Rumah Baca Masyarakat atau perpustakaan desa, dapat memudahkan dalam mencari informasi yang dibutuhkan. sehingga pengetahuan dan kecerdasan masyarakat  akan meningkat. Dengan meningkatnya kecerdasan dan pengetahuan masayarkat, wawasan masyarakat akan semakin luas dan perikalu masyarakat juga akan berubah, akhirnya  kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat dengan mengaplikasikan informasi-informasi yang mereka  dapatkan  dari perpustakaan dan Rumah Baca Desa serta Taman Baca Masyarakat tersebut.

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana strategi menghidupkan Taman Baca Masyarakat, Rumah Baca Desa dan perpustakaan desa  tetap eksis dan melekat di hati masyarakat?, sehingga budaya baca juga tertanam dalam masyarakat.  Karena, banyak perpustakaan Desa. Rumah Baca Desa dan Taman Baca Masyarakat hanya dapat bertahan sebulan dua bulan ramai di kunjungi, setelahnya sepi tanpa pengunjung hingga perpustakaaan dan pustakawan putus asa dalam mengatasi hal ini. Selain koleksi yang harus selalu diperbaharui,  Pustakawan memegang peranan penting dalam hal promosi. Pustakawan harus bisa menjadi penggerak budaya baca masyarakat sekitarnya apabila menginginkan perpustakaan dan Taman bacaan tetap eksis di masyarakat.


Dalam hal ini, anak-anak usia sekolah bisa di jadikan motor penggerak untuk merangsang minat baca masyarakat lainnya. Perpustakaan Desa, Rumah Baca Desa atau Taman baca Masyarakat harus sering mengadakan lomba, seperti lomba mendongeng dan bercerita, lomba membaca buku, dan lainnya.  Dan untuk masyarakat dewasa dan orang tua, perpusdes, RBD Dan TBM bisa mengadakan pelatihan-pelatihan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat pedesaan, misalnya pelatihan membuat pupuk untuk para petani,  pelatihan home industri dengan memanfaatkan potensi yang ada pada masyarakat tersebut, dan  belajar berbagai hal. Pengertian belajar tidak hanya di pendidikan formal juga harus selalu ditanamkan dalam masyarakat. Belajar boleh dimana saja dan kapan saja, dan perpustakaan merupakan media belajar mandiri yang tepat untuk masyarakat.  Karena, sebagian  masyarakat pedesaan masih banyak yang beranggapan bahwa belajar hanya di sekolah dan milik orang-orang kaya dan mampu saja dan perpustakaan hanya merupakan tempat berkumpulnya citivas akademika dan ilmuwan saja.

Selain itu, perpusdes, RBD dan TBM juga perlu  memperhatikan masukan dari masyarakat, misalnya lebih mendekatkan unit perpustakaan di lingkungan masyarakat, karena masyarakat akan beralasan malas untuk pergi ke perpustakaan apabila lokasinya jauh dari pemukiman masyarakat atau sulit dijangkau. Memperhatikan kebutuhan informasi masyarakat juga sangat penting agar  pengadaan bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk menjangkau minat baca masyarakat yang lebih dalam lagi, perpustakaan keliling perlu lebih proaktif, dan penyuluhan minat baca secara terus menerus. Selanjutnya, untuk lebih meningkatkan budaya baca masyarakat pedesaan, perpustakaan juga bisa  menerapkan berbagai inovasi seperti penerapan tehnologi informasi dalam penelusuran koleksi perpustakaan, dan kemasan buku yang mudah dipahami masyarakat juga harus menjadi perhatian terutama untuk masyarakat dari kalangan berpendidikan rendah. Akhirnya dengan terus adanya interaksi dan komunikasi antara perpustakaan dan masyarakat akan dapat mencapai tujuan diantara keduanya yaitu pengembangan budaya baca masyarakat meningkatkan dan pemberdayaan perpustakaan masyarakat akan berhasil optimal (KIM-N/C.A)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. (KIM) NAWALA - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template